Blog Siswa SMAN 1 Gondang Mojokerto

Blog Siswa SMAN 1 Gondang Mojokerto Game Blog | Created By Www.BestTheme.Net

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Hello world!
Righteous Kill
Quisque sed felis

JAM

cursor

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

CATATAN PERJALANAN PENDAKIAN SMADANGPALA KE WELIRANG – ARJUNA


Hari Pertama : Jum’at, 09 Juli 2009

Jam 06.00 – 07.30 Kumpul Bersama di Base Camp

Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya kami semua telah siap untuk berkumpul di sekolahan jam 6 pagi. Wajah riang dengan penuh senyuman Nampak diwajah kami semua, terlebih bagi adik-adik anggota baru, karena pendakian kali ini adalah pendakian yang pertama bagi mereka. Sambil menunggu beberapa teman yang belum datang, kami melakukan pengecekan barang-barang keperluan dan logistik yang perlu kami bawa. Sebelum berangkat kami semua mendengarkan pelepasan perjalanan oleh kepala sekolah Ibu Endang Suyanti. Beliau berpesan untuk selalu hati-hati karena pendakian bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan stamina fisik dan mental yang kuat untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang tidak bisa kami prediksikan.

Jam 07.30 – 13.00 Perjalanan dari Base Camp – PPH

Perjalanan kami mulai dengan para peserta SMADANGPALA dengan menaiki truk dari sekolah (SMAN 1 GONDANG). perjalanan yang membuat saya gugup karena begitu banyaknya para peserta yang menaiki truk sehingga saya menjadi was-was. dan alhamdulillah setelah melewati kecamatan pacet menuju ke desa Claket kami semua turun dari truk dan menunggu untuk diberi pengarahan dari PERHUTANI Pacet / PPH.

Jam 13.00 – 15.30 Persiapan Pendakian PPH – Pos I (Kop-kopan)

Setelah kami datang di PPH, perwakilan dari kami meminta izin kepada penjaga pos PPH untuk melakukan pendakian. Setelah izin selesai, ternyata hujan turun begitu deras, sehingga kami harus mengundur lagi jadwal pemberangkatan pendakian sampai hujan reda.

Jam 15.30 – 20.30 Perjalanan PPH – Pos I


Ketika hujan reda, kami semua telah siap untuk melakukan pendakian. Seperti biasa sebelum pendakian dimulai, kami melakukan doa bersama terlebih dahulu. Dengan harapan semoga perjalanan kali ini kami semua diberi keselamatan dan tidak ada halangan yang berarti. Jalan pertama yang kami adalah jalan berbatu yang sudah ditata dan menanjak, sehingga belum berjalan lama sudah membuat kami semua ngos-ngosan. Akhirnya kami sampai di tempat yang dinamakan Pet Bocor (bagi yang sudah pernah kesana pasti sudah tahu). Di situ kami mengisi persedian air bekal perjalanan kami sambil menikmati gorengan dan teh hangat yang dijual oleh penjaga warung.

Umumnya untuk sampai ke Pos I (Kop-kopan) kami butuh waktu 3-4 jam. Diiringi cuaca yang sedikit berkabut kami meniti jalanan yang membelah perkebunan warga, jalan yang tidak terlalu terjal itu dilalui dengan penuh semangat dan diiringi dengan acara foto ria pribadi. Hingga akhirnya kami mulai meninggalkan batas perkebunan dan menjumpai jalan berbatu di tengah hutan rimba. Napas dan kaki yang terlihat makin berat melangkah begitu jelas terlihat di sebagian besar peserta. Terutama peserta cewek yang masih pemula. Bahkan tidak sedikit peserta cewek meminta untuk membawakan tas kariernya kepada para senior dan alumni.

Saat kabut makin tebal diiringi tiupan angin dingin, sepertinya membuat mereka makin kedinginan. Ditambah dengan rasa capek pada kaki dan berat di pundak membuat para peserta bentar-bentar ingin istirahat. Dengan sedikit tidak tega saya sambil merayu mereka agar tetap berjalan meskipun dengan ritme pelan. Menjelang adzan Maghrib kami istirahat bersama di lahan bekas warung yang telah terbakar (tikungan sebelum pohon besar). Selama perjalanan sambil istirahat tidak lupa pula kami berofoto ria bersama.

Perjalanan kami lanjutkan kembali sambil menyalakan senter, karena kondisi sekitar sudah semakin petang dengan diselimuti kabut yang tebal. Dengan kondisi suhu yang semakin dingin dan rasa capek yang sangat membuat sebagian peserta cewek mengalami kram. Tetapi karena dengan semangat yang besar mereka tetap melanjutkan perjalanan. Meskipun saya harus rela membawakan dua tas karier dari peserta cewek tadi (kasihan banget yach….he he he).

Dengan langkah yang semakin gontai akhirnya kami semua sampai di Pos I (Kop-kopan) dengan selamat. Beberapa peserta langsung menyerbu warung untuk memesan teh hangat dan gorengan yang hangat pula. Sedangkan saya harus rela mencari tempat yang pas dan landai untuk mendirikan tenda. Setelah menemukan tempat yang cocok saya memanggil beberapa peserta untuk membantu saya mendirikan tenda. 1, 2 dan 3 tenda sudah berhasil kami dirikan tinggal 1 tenda lagi belum bisa kami dirikan. Karena masih harus mencari kayu penyanggah terlebih dulu. Tetapi akhirnya semua tenda berdiri juga. Sehingga kami semua bisa istirahat sebentar sebelum memasak makanan. Setelah makanan selesai dimasak, kami semua makan bersama dalam satu tempat. Selesai makan kami semua tidur dalam tenda, karena sudah tidak kuat lagi menahan hawa dingin yang menerpa kulit kami.

Hari kedua : Sabtu, 10 Juli 2009

Jam 05.00 – 08.30 Persiapan Pendakian Pos I – Pos II (Pondokan)

Sekitar jam 5 pagi sebagian besar dari kami sudah bangun dengan tujuan untuk melihat sun rise dari atas bukit yang ada di Kop-kopan. Tetapi alam ternyata tidak menghendaki kami. Pagi itu cuaca mendung, sehingga sampai batas waktu sun rise matahari masih tidak nampak. Dengan hati sedih karena tidak bisa melihat sun rise, akhirnya sebagian dari kami memasak makanan sebagai sarapan untuk mengisis perut sebelum melanjutkan misi. Sebagian dari kami yang tidak ikut masak menyiapkan kembali perlengkapan yang sempat dibongkar semalam dari tas karier masing-masing.

Jam 08.30 – 13.15 Perjalanan Pos I – Pos II

Tepat pukul 08.30 kami semua sudah siap untuk melanjutkan pendakian. Jalan yang kami lalui tidak banyak berbeda dengan jalan dari PPH ke Kop-kopan. Hanya saja awal-awal perjalanan kami melewati hamparan bukit yang ditumbuhi tanaman pakis haji. Selanjutnya kami melewati jalanan dalam hutan pinus yang menjulang tinggi nan besar. Pohon pinus di sini sangat mudah sekali terbakar, hal ini terlihat pada pangkal batangnya yang selalu berwarna hitam seperti habis terbakar.

Sebelum memasuki jalanan dalam hutan, kami mendengar raungan mobil Rangger pengangkut belerang yang mau lewat dari belakang. Seandainya boleh numpang sepertinya lebih enak naik Rangger daripada harus jalan kaki. Tetapi kami tidak melakukan hal itu, karena ini adalah pendakian, mau tidak mau kami harus tetap berjalan kaki.

Jalanan yang kami lalui semakin berat saja, bagi sebagian senior dan alumni termasuk saya hampir frustasi melihat perubahan jalan yang sangat drastis tersebut. Jika dulu jalanan masih alami dengan jalan batu dan tanah, sekarang sudah ditata dengan batu semua untuk memudahkan jalannya mobil Rangger pengangkut belerang tadi. Tidak sedikit kami menjumpai jalanan yang menanjak begitu tinggi nan panjang, sehingga membuat kami semua sedikit-sedikit istirahat. Tapi semua ini masih tidak bisa menyurutkan tekad kami untuk tetap mendaki sampai tujuan yang ditentukan. Meskipun masih ada beberapa peserta yang merasa hampir tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi saya harus membawakan tas mereka untuk bisa melanjutkan perjalanan.

Beberapa peserta yang telah berangkat mendahului telah berhasil sampai di Pondokan sekitar jam 11 dan mereka telah mendirikan tenda. Sambil menunggu beberapa peserta yang masih di belakang (termasuk saya) sebagian mereka ada yang mandi dan ada yang istirahat. Setelah semua sampai di Pondokan, pembina mengintruksikan bagi peserta yang masih merasa kuat untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Welirang. Sebagian yang tidak kuat tetap tinggal dan beberapa anak lain untuk menjaga tenda dan memasak makanan bagi peserta yang melanjutkan pendakian. Terpaksa saya, Pembina, Po’o dan Yazid harus tinggal di tenda untuk merawat beberapa peserta yang sakit (tidak usah saya sebutin nama biar tidak malu anaknya tidak ikutan ke puncak . . . ha ha ha) dan harus mempersiapkan makanan nanti.

Jam 14.00 – 20.00 Perjalanan Pos II – Puncak Gunung Welirang

Karena saya sendiri tidak ikut dalam perjalanan ini, maka tulisan yang saya tulis ini berdasarkan cerita dari peserta yang ikut melanjutkan perjalanan ke puncak. Perjalanan ke Puncak ini kami melewati jalur penambang belerang berupa jalan berdebu dan berbatu. Awal-awal perjalanan kondisi jalan masih bagus, tetapi selanjutnya jalanan sudah banyak yang rusak karena tergerus oleh air hujan dan kereta tarik (geledekan) para penambang belerang.

Setelah beberapa jam berjalan di sebelah kiri kami bisa melihat dengan jelas Gunung Kembar yang merupakan pemisah antara Gunung Welirang dengan Gunung Arjuna. Akhirnya kami sampai di persimpangan jalan dimana jika belok kiri adalah tempat untuk menambang belerang sedangkan yang lurus adalah jalur menuju puncak Gunung Welirang.

Jalan setelah persimpangan ini adalah jalan favorit saya, karena seperti berjalan di tangga yang berundak-undak. Disamping itu disekitar jalanan ini banyak ditemui pohon-pohon kerdil yang kata para penambang belerang dinamakan pohon “teh manis sarirejo”. Dimana pohon ini memiliki buah kecil-kecil yang bisa dimakan dan daunnya bisa dibuat sebagai bahan teh (hal ini sudah saya coba, bau dan rasanya lebih mantap daripada teh yang biasa kita minum). Keluar dari jalan berundak-undak kami dihadapkan pada jalanan berbatu yang terjal dengan jurang di sebelah kiri. Sehingga jika kami tidak jalan dengan hati-hati bisa terpeleset dan dipastikan pulang tinggal nama, karena memang jurangnya sangat dalam.

Setelah melewati jalan berbatuan yang terjal, akhirnya kami semua sampai di Puncak Gunung Welirang dengan selamat. Sesampai di puncak kami disambut dengan angin yang kencang sambil membawa kabut yang tebal. Sangat kencangnya angin tersebut, seakan-akan membuat tubuh kami terasa akan ikut terbawa angin. Disamping itu bau belerang yang semakin menyengat membuat kami tidak bisa berlama-lama dipuncak. Sekitar 30 menitan di puncak setelah menikmati pemandangan dan berfoto-foto ria, kami akhirnya kembali turun sebelum kemalaman.

Jam 20.00 – 11.00 Kumpul-kumpul Bersama

Setelah melakukan perjalanan ke puncak kami makan bersama dan dilanjutkan dengan bercerita ria tentang pengalaman baru mendaki gunung oleh para peserta pemula. Selesai bercerita sambil menunggu kantuk datang sebagian dari kami membuat minuman hangat sambil bermain kartu poker. Kantuk mulai menghinggapi kami semua, membuat kami menghentikan permainan poker dan masuk ke tenda masing-masing untuk melepaskan penat dan mengumpulkan kembali tenaga buat melanjutkan perjalanan esok hari.

Hari Ketiga : Minggu, 11 Juli 2009

Jam 05.30 – 07.30 Persiapan Pendakian Pos II – Puncak Gunung Arjuna

Mungkin karena merasa kecapekan sebagian besar dari kami bangun agak telat, sehingga lagi-lagi kami tidak bisa melihat sun rise yang indah.

Seperti biasa, sebagian dari kami sudah ada yang memasak makanan untuk sarapan sebelum memulai perjalanan. Sampai pukul 7.30 kami semua sudah selesai sarapan dan sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Pendakian kali ini yang tidak ikut adalah Pembina dan Erik (si Biting) karena memang dia sedang sakit perut.

Jam 07.30 – 15.30 Perjalanan Pos II – Puncak Gunung Arjuna

Perjalanan kami mulai dengan melewati jalan yang setapak yang landai dengan tanaman yang sedang berbunga menambah indah pemandangan. Berjalan sekitar 15 menit kami telah sampai di lembah Kidang. Kami beristirahat sebentar sambil mengisi air buat perbekalan nanti. Selepas dari lembah Kidang kami melewati jalan setapak yang terjal, lalu landai lagi. Setelah itu kami disuguhi padang sabana yang luas sebelum melewati jalan bebatuan yang besar-besar. Sebelum melalui jalan berbatu ini kami istarahat sebentar, karena ada peserta cowok yang mengalami kram. Akhirnya dia meminta untuk tidak melanjutkan dan menunggu saja di tempat terakhir kami istirahat tadi.

Kami semua meneruskan perjalanan melewati jalan bebatuan sambil memetik buah Strobery gunung. Peserta pemula banyak yang tertipu karena memetik buah yang masih berwarna merah. Padahal buah yang sudah tua adalah yang berwarna biru dengan rasa asam dan manis. Sebelum jalan bebatuan ini kami lewati, salah satu peserta cewek merasa pening dan perutnya agak mules (karena saat sarapan tadi anaknya cuma makan sedikit . . . tidak terbiasa sarapan mungkin . . .). Setelah dikasih minyak kayu putih keluhannya sedikit berkurang.

Jalan yang kami lalui semakin terjal dan sangat menyulitkan, karena jalannya berpasir, sehingga mudah sekali terpeleset kalau kami tidak hati-hati. Dengan kondisi jalan yang semakin menantang membuat kondisi peserta cewek yang sakit tadi semakin parah. Tetapi melihat tekadnya untuk tetap melanjutkan perjalanan masih besar (saya acungi 4 jempol buat dia), dia ingin sekali bisa sampai ke puncak, karena kemarin sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan ke puncak Welirang. Akhirnya saya, Rozaq dan Po’o saling bergantian untuk menggendong dia (tapi yang paling sering menggendong saya).

Sesampai di persimpangan jalan (antara ke puncak Arjuna dengan jalan ke puncak Welirang yang melalui Gunung Kembar) kami menjumpai rombongan pendaki dari Sidoarjo yang turun. Saya berpesan kepada mereka untuk mengajak kembali ke Pondokan teman kami yang menunggu di bawah (peserta cowok yang mengalami kram tadi). Dan kami semua pun melanjutkan perjalanan

Melihat kondisi peserta cewek tadi yang semakin melemah, saya putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke puncak. Ditambah dengan satu peserta cewek lagi yang mulai tidak kuat, sedangkan yang lain saya suruh untuk melanjutkan perjalanan menyusul beberapa teman kami telah mendahului. Saya bertiga berencana menunggu teman-teman turun dari puncak dan kembali bersama-sama. Tetapi dengan kencangnya angin yang membawa kabut membuat tubuh kami tidak kuat untuk menahan hawa dingin yang menerpa. Kalau tidak dibuat gerak/jalan bisa-bisa kami akan menggigil terus di tempat ini. Akhirnya saya putuskan untuk mengajak kedua peserta cewek tadi kembali ke Pondokan daripada nanti tambah kedinginan.

(Wach sampai di sini saya bingung harus menceritakan kelanjutan perjalanan ke puncak ataukah perjalanan saya turun. Ya sudah lah kalo begitu saya ceritakan perjalanan saya turun saja) . . .

Dengan terpaan angin kencang kami bertiga menapaki jalanan yang telah kami lalui tadi. Srooot…gedabuk, 1, 2, 3, dan 4 peserta cewek tadi secara bergantian saling terpeleset dari jalanan. Akhirnya kami berjalan turun dengan lebih berhati-hati sambil berpegangan tangan biar tidak terjatuh lagi. Sesampai di Pondokan kami langsung menyantap makanan yang telah disiapkan oleh Pembina dan peserta lain yang tidak ikut ke puncak. Setelah makan 2 peserta cewek tadi langsung istirahat, melepaskan capek yang begitu berat.

Sambil menunggu peserta lain datang dari puncak saya ikut membantu memasak dan menyiapkan makanan dan minuman yang masih kurang. Selesai memasak, tidak berselang lama hujan mulai turun dengan begitu deras dan tiba-tiba. Sehingga membuat kami kewalahan harus memasukan makanan yang selesai dimasak tadi ke dalam tenda. Begitu derasnya hujan dan kencangnya angin sampai-sampai tenda yang saya tempati (tenda A), penyangganya lepas. Hal ini membuat kondisi tenda kendor dan dalam tenda pun kami kebocoran.

Hujan pun mulai berangsur reda. Tidak lama kemudian beberapa peserta telah datang dari puncak di saat kami masih menghangatkan minuman buat mereka. Setelah peserta datang semua, kami berdiskusi apakah masih tetap menginap di Pondokan ataukah turun langsung ke PPH. Akhirnya disepakati untuk turun langsung ke PPH daripada menginap lagi di Pondokan. Selesai makan, kami lanjutkan mem-packing barang-barang kami dan tenda. Sebelum pulang kami berfoto-foto dengan tetangga tenda dari tim IKAPASGA (hanya ketambahan huruf “R” dari tim kami).

Jam 17.00 – 22.00 Perjalanan Turun Pos II – PPH

Setelah semua siap dengan tas karier masing-masing dan setelah semua sampah di sekitar tenda kami bersihkan, akhirnya kami meninggalkan Pondokan. Selamat tinggal Pondokan, semoga tahun depan kami masih bisa berkunjung kesini kembali. Sesampai di PPH kami langsung menuju mes TNI AL yang berada tidak jauh dari PPH untuk bermalam. Malam itu banyak peserta yang tidak tidur, saling bercerita tentang pengalaman baru mereka. Disamping itu, malam tersebut adalah malam final piala dunia, sehingga ada yang memilih menunggu untuk menonton pertandingan final. Saya sendiri memilih tidur karena sudah tidak kuat lagi menahan kantuk yang menyerang.

Hari Keempat : Senin, 12 Juli 2009

Esok harinya kami semua bangun dan mengantri mandi. Selesai mandi kami mencari sarapan di warung sekitar yang sudah banyak buka. Peserta yang tidak makan sibuk menata barang bawaan mereka ke dalam tas karier masing-masing. Sebelum pulang kami semua menyempatkan foto-foto bersama dengan latar belakang gunung yang diselimuti awan. Duch betapa indahnya dunia ini. Setelah puas berfoto ria, dengan berat hati kami meninggalkan mes TNI AL untuk melanjutkan perjalanan pulang. Akhirnya saya dan Oweng harus pulang ke Surabaya dengan motor, sedangkan peserta lain harus pulang ke Gresik dengan angkutan umum. Kami pun berpisah. Dalam perjalanan pulang berbagai perasaan berkecamuk di dada kami, ada banyak cerita yang ingin kami ceritakan kepada teman-temanku.

Sekian cerita perjalanan pendakian Welirang – Arjuna yang bisa saya ceritakan. Semoga perjalanan pendakian ini memberikan hikmah bagi adik-adik SMADANGPALA betapa indahnya alam ini, sehingga sangat disayangkan kalau harus dirusak oleh tangan-tangan jahil. Alam ini adalah titipan sehingga sepatutnya kita harus menjaganya. Salam LESTARI . . . Salam RIMBA . . . dan saya tunggu partisipasi kalian dalam setiap kegiatan SMADANGPALA. Terima kasih . . .

Leave a Reply